Sabtu, 11 Agustus 2012

Cita-cita

Tujuan? Tujuan itu bisa diibaratkan sebagai makanan. Disaat kita lapar kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih tak tentu arah. Tujuan adalah alat untuk kita menuju tempat yang seharusnya kita berada.
Visi? Visi bisa dibaratkan minuman. Disaat kita sangat haus dan dehidrasi kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih ragu dalam mengambil arah. Visi adalah jalan untuk kita agar tak ragu dan salah arah.
Cita-cita? Cita-cita, aku tak bisa menggambarkan seperti apa cita-cita itu. Karena sesungguhnya yang tau arti cita-cita itu adalah diri kita sendiri. Kita yang mampu mendeskripsikan seberapa dalamnya cita-cita itu. Seberapa berartinya cita-cita itu. Dan betapa berharganya cita-cita itu untuk kita.
Yang jelas hidup tanpa cita-cita itu sama artinya jalan diatas seutas tali. Yang tiba-tiba bisa saja terjatuh. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya tidur diatas papan dengan beribu paku. Yang rasanya pasti sakit. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya SAMPAH! Yang tak ada artinya sama sekali.

Jumat, 10 Agustus 2012

Ku Relakan Nyawaku demi Kebahagiaannya

Aku tau seluruh didunia ini hanyalah titipan dari Tuhan. Aku tau semuanya pasti akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Semuanya pasti akan berputar. Kadang akan dibawah dan pasti akan diatas. semua orang mengetahui hal itu.
Semuanya pasti tau akan kehidupan berubah. Kadang kaya tiba-tiba miskin. Kadang miskin tiba-tiba kaya. Dan itu sudah hukum alam.
Namun sampai kapan pun takkan ada 1 orang pun yang mengerti akan penderitaan ku. Penderitaan keluargaku. Penderitaan mamakku.
Setiap kali aku melihat goresan garis keriput dijidatnya hatiku dihantam sebongkahan batu. Setiap kali aku melihat wajah pucatnya perasaanku seketika hancur. Setiap kali aku melihat ia menangis saat itu juga aku merasakan dunia yang ku tempati hancur tak bersisa.
Mengapa ini harus terjadi padanya? Di waktu yang seharusnya ia jadikan saat ia berteduh, bersenang. Mengapa harus dia yang menanggung semuanya? Tak cukupkah penderitaanya saat ia ditinggal oleh orang yang paling ia cintai? Tak cukupkah bebannya dalam menanggung kehidupan aku dan saudara ku?
Aku mohon Tuhan, hentikanlah penyiksaannya. Kalaupun ia pernah melakukan kesalahan dimasa lalu nya sehingga Kau menghukumnya seperti ini, aku mohon ampunilah ia yah Tuhan. Sudahilah penderitaannya. Aku tak akan pernah sanggup melihatnya menderita. Kesedihannya menggores hatiku, air matanya menghujam jantungku, penderitaanya neraka bagiku. Aku rela menggantikan nyawa ku demi kebahagiaannya Tuhan. Karena aku sangat mencintai seorang wanita yang telah melahirkanku itu :) Ibu :)

Kamis, 09 Agustus 2012

Merdeka dalam Kemiskinan

Hidup memang tak selamanya seperti apa yang kita inginkan. Tak selamanya semenarik film yang kita tonton. Tak selamanya seturut dengan keinginan kita. Begitulah kehidupan yang sedang dijalani Rama. Siswa SMA Harapan di Jakarta yang bertaraf Internasional. Ia menjalani hidupnya semuanya serba kekurangan, ia mendapat beasiswa sehingga ia dapat bersekolah. Bertahun-tahun belajar disekolah tanpa mengenal waktu, tanpa mengenal lelah. Hingga sampailah ia pada tahap puncak. Di tahap puncak ini ia akan menghadapi peperangan yang bila diibaratkan sama seperti peperangan pada saat penjajahan Indonesia. Peperangan yang Rama jalani ini memang bukanlah bergelut dengan senjata, namun meski begitu ia tetap mempunyai senjata ampuh yang telah ia tanam selama hampir 3 tahun duduk di bangku SMA. Ilmu, ilmu yang takkan mati di makan akhir zaman, harta yang akan dibawa sampai menutup mata telah ia persiapkan sebaik-baiknya.
            Suatu pagi ia akan pergi ke sekolah karena ini adalah hari pertama UN dilaksanakan. Selain ia pintar, ia juga satu-satunya pelajar yang bekerja dengan jujur. Ia selalu menanamkan filosofi “1tetes air mata, 1tetes keringat yang kita hasilkan demi berusaha itu semua akan diganti dengan hasil yang memuaskan, dan semua pasti indah pada waktunya.” Ia juga selalu mengingat ibu yang telah mengandungnya, menghidupinya sebatang kara semenjak ayahnya meninggal dunia saat ia duduk di kelas 1SD, semenjak saat itu ia bertekad bahwa hidupnya hanya dipersediakan untuk melukiskan seulas senyuman di wajah ibunya.
            Selesai hari pertama UN, ia pun membantu ibunya berjulan baju di pasar, ia bertanya kepada ibunya,”Ibu, katanya Indonesia telah merdeka, tapi mengapa orang kecil seperti kita tetap dianggap butiran debu dimata pemerintah?” Ibunya hanya sanggup berkata,”Secara teoritis kita sudah merdeka nak, namun secara de faktonya kita tetap saja terjajah dengan pemerintah kita sendiri.” Maka Rama menjawab,”Semoga saja sewaktu Rama masuk PTN gak ada yang namanya uang-uangan yang sama seperti KKN di Indonsia.”
             Tak terasa telah 4 hari telah berlalu UN saatnya bersiap-siap untuk ujian SMNPTN yang sangat diimpin-impikannya. Hanya demi mendapakan PTN yang ia inginkan, ia rela bergadang tiap hari hanya untuk belajar. Selalu yang dia khawatirkan hanya jika teman-temannya yang jauh dibawah masuk PTN, jika dia tak masuk maka itu sudah ada permainan tikus-tukus di SNMPTN tersebut.
             Tibalah saat SNMPTN dimulai, saat ujian pun ia tetap bekerja sendiri, tetap berjuang sendiri tanpa ada sogok-sogokan. Dia sangat berharap masuk untuk memberikan hadiah ulang tahun kepada ibunya. Harapan yang sangat ia idam-idamkan selama ia bersekolah.
             Saatnya pengumumman SNMPTN tiba, ternyata Rama lolos di FK suatu Universitas negeri di Jakarta. Ia mengahadiahkan kelolosannya itu sebagai hadiah ulang tahun ibunya. Ibunya sangat bahagia dan langsung berdoa untuk mengucapkan syukur. Tiba saat daftar ulang, dekan suatu Universitas negeri tersebut meminta uang pembangunan, uang sumbangan yang melampaui kemampuan ibu Rama, dia pun berusaha keras meminta surat keterangan keluarga miskin dari Lurah setempat, namun lurah tersebut meminta uang untuk mengurus surat tersebut dan biayanya diluar kemampuan keuangan Rama. Ia pun mulai berpikir mengapa orang miskin selalu ditindas? Mengapa sudah jatuh ditimpa tangga lagi? Ia ingin meminta bantuan ke pemerintah yang sedang menjabat, namun kenapa malah mereka yang menindas rakyat, jika pemerintah yang seharusnya tempat mengaduh malah meruntuhkan semuanya, maka harus kemanakah rakyat mengaduh?
             Tibalah saat daftar ulang Rama pun kembali ke Universitasnya dan menghadap ke dekan, namun dekan itu malah mangatakan,”Jika ingin kuliah harus bisa membiayai semua yang dituntut oleh Universitas ini, jika tak mampu maka mengundurkan diri sajalah, karena masih banyak yang mampu yang ingin kuliah disini.” Mendengar hal tesebut Rama pun berpikir, haruskah hanya orang yang mempunyai kedudukan saja yang bisa menuntut ilmu? Haruskah orang yang memiliki materi yang bisa untuk kuliah? Apakah di negeri ini tak ada lagi keadilan yang bisa diberikan sedikit saja kepada rakyat jelata?
             Setahun setelah kejadian tersebut Rama pun hanya dapat menjadi guru privat matematika di desanya, karena pemerintah selalu berpihak kepada yang memiliki kedudukan saja. Hanya kepada rakyat bonafit saja. Inikah yang dikatakan merdeka? Apakah ini yang disebut kesatuan dan sama rasa? Sesungguhnya rakyat Indonesia masih dijajah. Dijajah oleh kemiskinan. Tetap ditindas oleh para pemimpin yang telah bertransformasi menjadi tikus-tikus Negara. Bukan hanya dalam bidang pemerintahan namun dalam bidang pendidikan pun dijadikan lahan bisnis baginya. Ini sama artinya Indonesia merdeka dalam kemiskinan.

Senin, 06 Agustus 2012

Satu

Melihat mereka bisa menjalani hidup tanpa terpengaruh cinta. Tak memikirkan cinta. Berkonsentrasi penuh dengan yang mereka kerjakan. Melihat dengan 1 tujuan, 1 kemauan, dan 1 harapan. Bagaikan pohon jati yang kokoh walaupub diterpa badai, bagaikan batu disungai takkan goyah meskipun diterjang derasnya arus sungai.
Berharap bisa melakukannya, sama seperti meyakinkan bahwa aku bisa terbang. Berharap bisa melaksanakannya, sama seperti tidur diatas awan.
Aku takkan bisa, takkan sanggup, karena sampai kapan pun 1 tujuan, 1 kemauanku, 1 harapan ku hanya bersama mu :(

Only Hope

Berharap. Sama seperti menunggu sesuatu yang belum pasti. Berharap. Sama seperti ruang hampa yang selalu menanti hingga ada yang mengisi.Berharap. Apakah bisa aku memiliki itu? Hanya sekedar rasa berharap. Cukup hanya berharap.
Melepaskanmu sama seperti melumpuhkan otakku. Melupakanmu sama seperti menghentakkan diriku sendiri ke neraka. Dan merelakanmu, membunuhku.
Namun harus. Harus melepaskanmu meskipun otakku takkan bekerja lagi. Harus melupakanmu meskipun panas api kecewa membakar hatiku. Harus merelakanmu meskipun membunuh semua harapanku, impianku, tujuanku, dan nafasku.
Kenapa mereka mendapat kesempatan memiliki mu? Kenapa dia memiliki tempat special dihatimu? Kenapa dia dapat berharap untuk mendapatkan hatimu? Kenapa dia bisa berharap memiliki mu? Kenapa bukan aku?
Apakah aku memang tak ada. Tak ada dalam pikiranmu, hatimu, sanubarimu? Apakah aku memang tak pantas? Tak pantas hanya untuk berharap? Hanya berharap mendapatkan perhatianmu, hatimu. Hanya ingin merasakan berharap untuk menjadi seseorang yang ingin kau miliki, karena aku tlah jatuh terlalu dalam belenggu cintaku pada mu. And I just wanna wish. To hope you feel what I felt. :(

Minggu, 05 Agustus 2012

Berhintilah

Terbangun dari lelap. Bangkit dari keterpurukan. Meningalkan semua yang telah berlalu. Menatap esok, menyongsong hari, melupakan semua perasaan.
Berusaha menguatkan, meyakinkan hati, membekukan perasan. Sekuat mungkin hingga segalanya kini menyeruak keluar, meluap-luap hingga tak dapat ku bendung.
Lihatlah, tataplah betapa tak kuasanya kubendung segala perasaan ini. Apakah kau tak mengerti? Apakah kau tak dapat merasakannya?
Lelah ku menyimpanya. Letih ku menutupinya. Haruskah aku mengungkapkannya pada mu? Haruskah aku mengatakannya pada mu? Haruskah aku berteriak dan memanggil namamu?
Berhenti! Cukup! Stop it! Gak! Tidak! Ini hanya rasa kagum. Yah itu benar, Kagum! Just it!
No! Aku tidak dapat pungkiri, ini lebih dari itu. Lebih! Ahh... impossible!
Meninggalkan perasaan yang baru tumbuh ini rasanya menghempaskan diri ke api. Namun harus aku lakukan. Ini tidak normal, ini tak bisa. Bukan aku. BUKAN! Bukan aku yang ia pilih, bukan aku yang ada dalam hatinya, bukan aku yang ada dalam pikirannya, bukan ada dalam sanubarinya, bukan aku yang pantas untuknya.
Berhentilah! Ku mohon, cinta berhentilah hanya sampai titik kagum. :(

Rabu, 01 Agustus 2012

You will when you belive :)

Berjalan terus tanpa henti. Hingga di satu titik akhirnya aku lelah. Disaat itulah kejenuhanku menyeruak keluar tanpa bisa kubendung. Seperti roda kehidupan, kadang diatas namun kadang juga dibawah. Saat dibawah aku baru bisa mengerti kehidupan, mengerti perjuangan, mengerti usaha dan kepedihan. Sesuatu yang sangat sederhana dapat menjadi sangat berharga. Namun disaat aku berada di titik puncak, selalu menganggap apa yang kumilik tak ada artinya, sama seperti pisau yang telah berkarat. Disaat aku duduk pada puncak teratas kehidupan, itulah titik yang paling sepi. Namun walaupun begitu aku tetap ingin menjadi yang nomor 1. Disini, saat ini, mungkin aku masih berada dititik perkembangan. Titik kerapuhan tlah aku lewati namun tak sepenuhnya aku berada di titik puncak. Who know? Yang akan melihat kelanjutan ceritanya hanya  aku, dan semuanya ada ditanganku. Begitu juga dengan kalian, kelanjutan kehidupan kalian berada ditangan kalian. Titik bawah atau atas kah yang akan kalian ambil. But clear, you will when you belive. :) Fighting and never give up.