Jumat, 17 Agustus 2012

Diantar 2 Pilihan

Semua orang bilang bahwa cinta tulus itu takkan mengenal miskin dan kaya. Namun dikehidupan nyata saat ini realitanya tidak sama dengan kalimat itu. Tidak ada yang ingin hidup hanya dengan cinta.
Semua orang mengatakan bahwa cinta tulus itu tak melihat dari rupanya. Namun dizaman saat ini tak 1 pun cowok yang mau mencintai seseorang dengan rupa yang pas pasan.
Semua orang juga bilang cinta itu menerima pasangannya apa adanya. Namun saat ini yang aku rasakan sangat berbeda dengan pendapat semua orang.
Semuanya terasa sangat sulit. Hanya untuk mengharapkannya saja aku sudah tak sanggup. Namun disaat yang bersamaan pula aku mendapat dorongan keberanian untuk berharap dia menjadi milikku. Ini saat saat yang terberatku, antara berharap dan melepaskan harapan. Disaat aku siap untuk melepaskan harapan ini, namun tiba-tiba muncul dorongan harapan yang seperti menghempaskanku naik kelangit dengan beribu bunga yang mengelilingiku. Berhenti berharap disaat harapan itu datang. Harus apakah yang aku lakukan? Haruskah aku mengikuti putaran bumi yang seolah-olah enggap berputar dari posisinya dengan aku yang selalu dibawah?
Berikan aku 1 petunjuk, harus apakah aku? Harus berhenti kah meskipun ini sudah terlalu jauh. Harus tetap berharapkah? Dan menerima resikonya nanti. Berikan aku 1 tanda, Haruskah aku melepaskan harapan ini meskipun aku yakin itu akan membunuhku. Atau tetapkah aku berharap?
Hidup selalu dihadapkan atas 2 pilihan, namun ini adalah pilihan yang sangat berat.

Senin, 13 Agustus 2012

Takkan Menyesali

Seperti biasanya, senang dan sedih itu silih berganti. Dan semua orang dapat merasakannya. Namun bagaiman jika disaat yang sama kita merasakan kedua hal tersebut? Senang dan sedih itu sama datang bagaikan tombak yang menembus uluh hati. Masih bisakah itu disebut bahagia? Atau bisakah itu dianggap kesedihan?
Dan seperti biasa pula, terharu dan tersinggung itu silih berganti. Namun bagaimana jika di detik yang sama pula keduanya datang? Seperti dihadapkan dengan harimau yang akan secepat kilat menerkam. Masih bisakah itu dianggap terharu? Atau kah itu malah disebut tersinggung?
Saat jatuh cinta dan patah hati itu silih berganti pula. Dan bahkan rumput pun mengetahuinya. Namun bagaimana jika disaat yang bersamaan kedua hal itu dihadapkah disatu sisi cinta namun disisi lain patah hati yang hanya diberi jarak setebal benang sutera. Yang semakin lama semakin dekat hingga akhirnya membentur 1 sama lain tanpa bisa dicegah. Sama seperti pedang yang menghujam jantung dan disiram oleh asam. Apakah itu masih bisa dianggap jatuh cinta? Atau itu dianggap sebagai sakit hati?
Sampai kapan pun aku takkan mengetahui artinya. Karena sampai kapanpun, mesikipun aku merasakan hal-hal itu, takkan pernah aku menyesali telah memberikan perasaan ini untukmu, meskipun saat ini aku harus merelakanmu demi dia. :)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hingga Akhir Hayat

Engkaulah nafasku, yang menjaga didalam hidupku. Kau lah tujuanku. Kau lah harta ku. Kau lah akar tempat ku bertopang. Kau lah tanah untuk tempat ku tertancap. Kau lah segalanya bagiku.
Melepaskan mu sesuatu yang menikam ku. Melupakan mu sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan di keadaan sadar dan terlelap ku. Meninggalkan mu sesuatu yang dapat membunuhku hidup-hidup.
Engkau yang mengajarkanku menjadi yang terbaik. Kau yang menuntunku untuk selalu ingat kepada-Nya. Kau yang selalu memperingatkan ku jika aku salah arah. Kau yang selalu merangkul ku saat aku letih. Kau yang selalu menopangku saat aku goyah. Kau yang menangkapku saat aku terjatuh. Kau adalah pangeranku.
Kau adalah Raja bagiku. Yang selalu aku segani namun juga sangat aku cintai. Kau adalah bintang hidupku, yang selalu memperindah kelam hidupku. Kau adalah rembulan ku, yang selalu menerangi gelapnya hidupku. Kau adalah lentera hidupku yang selalu menyinari jalan hidupku. Kau adalah payungku yang selalu menaungiku. Kau adalah matahariku yang selalu memberikan ku kehangatan. Kau adalah berlian yang paling berharga di hatiku.
Hanya sedikit waktu yang kita miliki. Hanya sekejap Tuhan titipkan kau didalam hidupku. Hanya sebentar aku layak memiliki mu. Hanya segelintir kenangan yang kau torehkan dimemoriku namun sangat melekat hingga tak mungkin aku delete file itu.
Mengapa hanya ini saja? Mengapa hanya segini saja? Mengapa hanya sekejap Tuhan? Mengapa hanya sebentar kau titipkan dia dihidupku? Dia belum sepenuhnya melukis di kanvas hidupku. Dia belum selesai menorehkan tinta nya di kertas hatiku. Mengapa hanya sebentar?
Kau telah pergi. Pergi yang aku sendiri tak tau kemana? Apakah bisa aku melupakan seseorang yang sangat berati dalam hidupku? Apakah bisa aku melepaskan seseorang yang telah ku jadikan Raja dihatiku? Apakah sanggup aku merelakan kepergiaanmu? Aku belum bisa. Aku belum sanggup. Aku terlalu menyayangimu. Terlalu mencintaimu. Terlalu ingin memilikimu.
Tanggal 12-08-12 hari yang paling berarti bagiku. My sweet seventeen. Aku tak berharap lebih. Aku tak ingin kau kembali lagi di tengah kehidupanku karena itu mustahil.Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Aku hanya ingin menangis terseduh dalam dekapan mu yang sudah 8 tahun aku rindukan. Aku hanya ingin memelukmu. Aku hanya mau kau mengucapkan 'SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU, NEKE' walaupun hanya sekedar mimpi. Bapakku, aku akan selalu menyayangimu, hingga akhir hayatku :(

Cita-cita

Tujuan? Tujuan itu bisa diibaratkan sebagai makanan. Disaat kita lapar kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih tak tentu arah. Tujuan adalah alat untuk kita menuju tempat yang seharusnya kita berada.
Visi? Visi bisa dibaratkan minuman. Disaat kita sangat haus dan dehidrasi kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih ragu dalam mengambil arah. Visi adalah jalan untuk kita agar tak ragu dan salah arah.
Cita-cita? Cita-cita, aku tak bisa menggambarkan seperti apa cita-cita itu. Karena sesungguhnya yang tau arti cita-cita itu adalah diri kita sendiri. Kita yang mampu mendeskripsikan seberapa dalamnya cita-cita itu. Seberapa berartinya cita-cita itu. Dan betapa berharganya cita-cita itu untuk kita.
Yang jelas hidup tanpa cita-cita itu sama artinya jalan diatas seutas tali. Yang tiba-tiba bisa saja terjatuh. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya tidur diatas papan dengan beribu paku. Yang rasanya pasti sakit. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya SAMPAH! Yang tak ada artinya sama sekali.

Jumat, 10 Agustus 2012

Ku Relakan Nyawaku demi Kebahagiaannya

Aku tau seluruh didunia ini hanyalah titipan dari Tuhan. Aku tau semuanya pasti akan berubah seiring dengan berjalannya waktu. Semuanya pasti akan berputar. Kadang akan dibawah dan pasti akan diatas. semua orang mengetahui hal itu.
Semuanya pasti tau akan kehidupan berubah. Kadang kaya tiba-tiba miskin. Kadang miskin tiba-tiba kaya. Dan itu sudah hukum alam.
Namun sampai kapan pun takkan ada 1 orang pun yang mengerti akan penderitaan ku. Penderitaan keluargaku. Penderitaan mamakku.
Setiap kali aku melihat goresan garis keriput dijidatnya hatiku dihantam sebongkahan batu. Setiap kali aku melihat wajah pucatnya perasaanku seketika hancur. Setiap kali aku melihat ia menangis saat itu juga aku merasakan dunia yang ku tempati hancur tak bersisa.
Mengapa ini harus terjadi padanya? Di waktu yang seharusnya ia jadikan saat ia berteduh, bersenang. Mengapa harus dia yang menanggung semuanya? Tak cukupkah penderitaanya saat ia ditinggal oleh orang yang paling ia cintai? Tak cukupkah bebannya dalam menanggung kehidupan aku dan saudara ku?
Aku mohon Tuhan, hentikanlah penyiksaannya. Kalaupun ia pernah melakukan kesalahan dimasa lalu nya sehingga Kau menghukumnya seperti ini, aku mohon ampunilah ia yah Tuhan. Sudahilah penderitaannya. Aku tak akan pernah sanggup melihatnya menderita. Kesedihannya menggores hatiku, air matanya menghujam jantungku, penderitaanya neraka bagiku. Aku rela menggantikan nyawa ku demi kebahagiaannya Tuhan. Karena aku sangat mencintai seorang wanita yang telah melahirkanku itu :) Ibu :)

Kamis, 09 Agustus 2012

Merdeka dalam Kemiskinan

Hidup memang tak selamanya seperti apa yang kita inginkan. Tak selamanya semenarik film yang kita tonton. Tak selamanya seturut dengan keinginan kita. Begitulah kehidupan yang sedang dijalani Rama. Siswa SMA Harapan di Jakarta yang bertaraf Internasional. Ia menjalani hidupnya semuanya serba kekurangan, ia mendapat beasiswa sehingga ia dapat bersekolah. Bertahun-tahun belajar disekolah tanpa mengenal waktu, tanpa mengenal lelah. Hingga sampailah ia pada tahap puncak. Di tahap puncak ini ia akan menghadapi peperangan yang bila diibaratkan sama seperti peperangan pada saat penjajahan Indonesia. Peperangan yang Rama jalani ini memang bukanlah bergelut dengan senjata, namun meski begitu ia tetap mempunyai senjata ampuh yang telah ia tanam selama hampir 3 tahun duduk di bangku SMA. Ilmu, ilmu yang takkan mati di makan akhir zaman, harta yang akan dibawa sampai menutup mata telah ia persiapkan sebaik-baiknya.
            Suatu pagi ia akan pergi ke sekolah karena ini adalah hari pertama UN dilaksanakan. Selain ia pintar, ia juga satu-satunya pelajar yang bekerja dengan jujur. Ia selalu menanamkan filosofi “1tetes air mata, 1tetes keringat yang kita hasilkan demi berusaha itu semua akan diganti dengan hasil yang memuaskan, dan semua pasti indah pada waktunya.” Ia juga selalu mengingat ibu yang telah mengandungnya, menghidupinya sebatang kara semenjak ayahnya meninggal dunia saat ia duduk di kelas 1SD, semenjak saat itu ia bertekad bahwa hidupnya hanya dipersediakan untuk melukiskan seulas senyuman di wajah ibunya.
            Selesai hari pertama UN, ia pun membantu ibunya berjulan baju di pasar, ia bertanya kepada ibunya,”Ibu, katanya Indonesia telah merdeka, tapi mengapa orang kecil seperti kita tetap dianggap butiran debu dimata pemerintah?” Ibunya hanya sanggup berkata,”Secara teoritis kita sudah merdeka nak, namun secara de faktonya kita tetap saja terjajah dengan pemerintah kita sendiri.” Maka Rama menjawab,”Semoga saja sewaktu Rama masuk PTN gak ada yang namanya uang-uangan yang sama seperti KKN di Indonsia.”
             Tak terasa telah 4 hari telah berlalu UN saatnya bersiap-siap untuk ujian SMNPTN yang sangat diimpin-impikannya. Hanya demi mendapakan PTN yang ia inginkan, ia rela bergadang tiap hari hanya untuk belajar. Selalu yang dia khawatirkan hanya jika teman-temannya yang jauh dibawah masuk PTN, jika dia tak masuk maka itu sudah ada permainan tikus-tukus di SNMPTN tersebut.
             Tibalah saat SNMPTN dimulai, saat ujian pun ia tetap bekerja sendiri, tetap berjuang sendiri tanpa ada sogok-sogokan. Dia sangat berharap masuk untuk memberikan hadiah ulang tahun kepada ibunya. Harapan yang sangat ia idam-idamkan selama ia bersekolah.
             Saatnya pengumumman SNMPTN tiba, ternyata Rama lolos di FK suatu Universitas negeri di Jakarta. Ia mengahadiahkan kelolosannya itu sebagai hadiah ulang tahun ibunya. Ibunya sangat bahagia dan langsung berdoa untuk mengucapkan syukur. Tiba saat daftar ulang, dekan suatu Universitas negeri tersebut meminta uang pembangunan, uang sumbangan yang melampaui kemampuan ibu Rama, dia pun berusaha keras meminta surat keterangan keluarga miskin dari Lurah setempat, namun lurah tersebut meminta uang untuk mengurus surat tersebut dan biayanya diluar kemampuan keuangan Rama. Ia pun mulai berpikir mengapa orang miskin selalu ditindas? Mengapa sudah jatuh ditimpa tangga lagi? Ia ingin meminta bantuan ke pemerintah yang sedang menjabat, namun kenapa malah mereka yang menindas rakyat, jika pemerintah yang seharusnya tempat mengaduh malah meruntuhkan semuanya, maka harus kemanakah rakyat mengaduh?
             Tibalah saat daftar ulang Rama pun kembali ke Universitasnya dan menghadap ke dekan, namun dekan itu malah mangatakan,”Jika ingin kuliah harus bisa membiayai semua yang dituntut oleh Universitas ini, jika tak mampu maka mengundurkan diri sajalah, karena masih banyak yang mampu yang ingin kuliah disini.” Mendengar hal tesebut Rama pun berpikir, haruskah hanya orang yang mempunyai kedudukan saja yang bisa menuntut ilmu? Haruskah orang yang memiliki materi yang bisa untuk kuliah? Apakah di negeri ini tak ada lagi keadilan yang bisa diberikan sedikit saja kepada rakyat jelata?
             Setahun setelah kejadian tersebut Rama pun hanya dapat menjadi guru privat matematika di desanya, karena pemerintah selalu berpihak kepada yang memiliki kedudukan saja. Hanya kepada rakyat bonafit saja. Inikah yang dikatakan merdeka? Apakah ini yang disebut kesatuan dan sama rasa? Sesungguhnya rakyat Indonesia masih dijajah. Dijajah oleh kemiskinan. Tetap ditindas oleh para pemimpin yang telah bertransformasi menjadi tikus-tikus Negara. Bukan hanya dalam bidang pemerintahan namun dalam bidang pendidikan pun dijadikan lahan bisnis baginya. Ini sama artinya Indonesia merdeka dalam kemiskinan.

Senin, 06 Agustus 2012

Satu

Melihat mereka bisa menjalani hidup tanpa terpengaruh cinta. Tak memikirkan cinta. Berkonsentrasi penuh dengan yang mereka kerjakan. Melihat dengan 1 tujuan, 1 kemauan, dan 1 harapan. Bagaikan pohon jati yang kokoh walaupub diterpa badai, bagaikan batu disungai takkan goyah meskipun diterjang derasnya arus sungai.
Berharap bisa melakukannya, sama seperti meyakinkan bahwa aku bisa terbang. Berharap bisa melaksanakannya, sama seperti tidur diatas awan.
Aku takkan bisa, takkan sanggup, karena sampai kapan pun 1 tujuan, 1 kemauanku, 1 harapan ku hanya bersama mu :(