Malam berkabung. Berkabung bukan berarti aku kehilangan seseorang karena meninggal. Berkabung ku karena aku kehilangan mu. Berkabung ku karena aku kehilangan tempat hatiku. Berkabung ku karena aku kehilangan hati mu. Berkabung ku karena kau. Berkabung ku karena dirimu.
Kehilangan perhatianmu. Kehilangan pandanganmu. Kehilangan tawamu. Kehilangan senyumanmu. Kehilangan rayuanmu yang selalu sukses membuat ku melambung tinggi ke angkasa. Kehilangan hati mu. Kehilangan cintamu.
Dapatkah sesungguhnya ini ku sebut kehilangan? Dapatkah sesungguhnya ini ku katakan berkabung? Yang pada kenyataannya perhatian mu, pandanangan mu, tawamu, senyumanmu, rayuanmu, hati mu, bahkan cintamu hanyalah harapan ku saja. Hanya hidup di dunia khayalanku saja, hanya terwujud di imajinasiku saja, hanya nyata di dunia fatamorgana yang ku buat sendiri di pikiranku.
Perhatianmu, pandanganmu, tawamu, senyumanmu, rayuanmu, hatimu, bahkan cintamu, semuanya yang ada padamu hanyalah semu. Aku hanya bisa mengharapkan mu bersama ku dalam mimpiku saja. Namun nyatanya aku hanya menanti bayangan mu saja.
Harapan yang selalu kau berikan itu pun hanyalah semu. Semuanya. Perhatianmu, pandanganmu, tawamu, senyumanmu, rayuanmu, hatimu, ternyata hanyalah semu. Harapan palsu belaka. You just give me the fake love. You always give and take your love, but that's just the fake love. Thank you for all. Now my decision to forget you now and forever. :(
Man proposes, God disposes. Nothing is impossible. Pray, try, and must be confident, so you will be adult. From nothing to be something. Be a confident person. :)
Selasa, 18 September 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
Menghentikan Bumi
Bumi selalu berputar semua yang ada didalamnya tak dapat meyangkal fakta itu. Bahkan orang buta sekalipun mengtahuinya. Tapi mengapa hati ini ingin menghentikannya?
Bagaikan burung mungil yang terpisah dari kawanannya saat melalukan imigrasi, tak tentu arah, tak tentu tujuan. Harus kemanakah ia mengepakkan sayap-sayap mungilnya?
Seperti desiran ombak dilaut. Disaat angin bertiup kencang, ia akan menerjang bagaikan air yang menari penuh semangat diatas lantai pasir putih. Namun disaat angin berhembus lembut, ia seolah-olah berubah menjadi selendang sutra yang lembut dan halus. Dan sampai kapan aku mengikuti pola ombak tersebut?
Haruskan hidup dibumi ini mengikuti peraturan? Haruskah semuanya ini dilakukan dengan skema yang dibuat oleh alam dan manusia sebagai bonekanya? Haruskah kita manusia tetap berambisius untuk harta masadepan? Siapa yang menjamin semuanya akan sempurna jika kita memiliki meteri yang berlimpah? Kini aku telah sampai dititik kejenuhan roda kehidupanku. Aku ingin menghentikan rotasi dan revolusi bumi. Aku ingin menghentikan tiap dentingan jarum jam yang berputar. Aku ingin tetap dititik ini, meskipun aku merasa jenuh, namun inilah yang aku mau. Tak memikirkan apapun. Masa lalu, sekarang, dan masa depan sedikit demi sedikit namun pasti menghilang dari memori otak yang selama ini memenuhi otakku. Aku ingin sekali ini, kali ini saja membiarkan otakku beristirahat. Dan kalaupun ini hanya sementara, aku ingin menghentikan kehidupan agar semua manusia dapat merasakan betapa damainya menghentikan waktu dalam ekstasi pikiran yang tak kita sadari saat kita dambakan.
Lokasi:
Pematangsiantar, Indonesia
Senin, 20 Agustus 2012
Bingung
Kosong. Apa sebenarnya defenisi kosong? Apakah kosong itu hanya sekedar ruangan yang hampa tanpa ada isi? Apakah kosong itu suatu wadah yang tak memiliki muatan?
Hampa. Apa sebenarnya pengertian hampa? Apakah hampa itu hanya ruangan yang tanpa udara? Apakah hampa itu?
Apakah bisa aku ibaratkan kosong dan hampa itu sebagai hatiku? Hampa yang aku rasakan bagaikan embun di pagi hari yang menyejukkan sekaligus menyayat.
Kosong yang hinggap dihatiku jus jeruk sangat manis namun terkadang sangat asam.
Bagaikan desiran ombak yang tenang namun tiba-tiba dapat mengamuk merenggut seluruh ketenangan dalam hati ini yang tergoncang oleh dahsyatnya perasaan yang kini telah bertengger cantik di bingkai hatiku. Semuanya hancur tak bersisa, seperti tsunami melanda hati ini. Bingung. Hanya itu lah yang dapat aku rasakan saati ini. Bingung melihat body language mu. Bingung menentukan arah. Bingung memilih tempat. Bingung mengambil keputusan.
Disaat pertama kali aku merasakan perasaan kepada mu bagaikan terbang ke langit bersama milyaran bunga yang mengelilingiku. Namun betul memang itu hanya mimpi. Just dream. Setelah terbangun dari tidurku yang aku dapati hanyalah guncangan dalam hati, ternyata semuanya semu. Perasaan yang takkan pernah terbalas. Itulah hadiah yang aku dapati setelah aku terbangun dari tidurku. Bagaikan terhempas jatuh dari langit teratas hingga bisa digambarkan sampai ke neraka, panas, sakit, perih.
Harus apakah aku? Bagaimanakah aku menanggulanginya? Haruskah aku mematikan hati ini agar tak dapat merasakan suka maupun sakit darimu?
Hampa. Apa sebenarnya pengertian hampa? Apakah hampa itu hanya ruangan yang tanpa udara? Apakah hampa itu?
Apakah bisa aku ibaratkan kosong dan hampa itu sebagai hatiku? Hampa yang aku rasakan bagaikan embun di pagi hari yang menyejukkan sekaligus menyayat.
Kosong yang hinggap dihatiku jus jeruk sangat manis namun terkadang sangat asam.
Bagaikan desiran ombak yang tenang namun tiba-tiba dapat mengamuk merenggut seluruh ketenangan dalam hati ini yang tergoncang oleh dahsyatnya perasaan yang kini telah bertengger cantik di bingkai hatiku. Semuanya hancur tak bersisa, seperti tsunami melanda hati ini. Bingung. Hanya itu lah yang dapat aku rasakan saati ini. Bingung melihat body language mu. Bingung menentukan arah. Bingung memilih tempat. Bingung mengambil keputusan.
Disaat pertama kali aku merasakan perasaan kepada mu bagaikan terbang ke langit bersama milyaran bunga yang mengelilingiku. Namun betul memang itu hanya mimpi. Just dream. Setelah terbangun dari tidurku yang aku dapati hanyalah guncangan dalam hati, ternyata semuanya semu. Perasaan yang takkan pernah terbalas. Itulah hadiah yang aku dapati setelah aku terbangun dari tidurku. Bagaikan terhempas jatuh dari langit teratas hingga bisa digambarkan sampai ke neraka, panas, sakit, perih.
Harus apakah aku? Bagaimanakah aku menanggulanginya? Haruskah aku mematikan hati ini agar tak dapat merasakan suka maupun sakit darimu?
Label:
cerita,
curhat,
percintaan
Lokasi:
Pematangsiantar, Indonesia
Jumat, 17 Agustus 2012
Diantar 2 Pilihan
Semua orang bilang bahwa cinta tulus itu takkan mengenal miskin dan kaya. Namun dikehidupan nyata saat ini realitanya tidak sama dengan kalimat itu. Tidak ada yang ingin hidup hanya dengan cinta.
Semua orang mengatakan bahwa cinta tulus itu tak melihat dari rupanya. Namun dizaman saat ini tak 1 pun cowok yang mau mencintai seseorang dengan rupa yang pas pasan.
Semua orang juga bilang cinta itu menerima pasangannya apa adanya. Namun saat ini yang aku rasakan sangat berbeda dengan pendapat semua orang.
Semuanya terasa sangat sulit. Hanya untuk mengharapkannya saja aku sudah tak sanggup. Namun disaat yang bersamaan pula aku mendapat dorongan keberanian untuk berharap dia menjadi milikku. Ini saat saat yang terberatku, antara berharap dan melepaskan harapan. Disaat aku siap untuk melepaskan harapan ini, namun tiba-tiba muncul dorongan harapan yang seperti menghempaskanku naik kelangit dengan beribu bunga yang mengelilingiku. Berhenti berharap disaat harapan itu datang. Harus apakah yang aku lakukan? Haruskah aku mengikuti putaran bumi yang seolah-olah enggap berputar dari posisinya dengan aku yang selalu dibawah?
Berikan aku 1 petunjuk, harus apakah aku? Harus berhenti kah meskipun ini sudah terlalu jauh. Harus tetap berharapkah? Dan menerima resikonya nanti. Berikan aku 1 tanda, Haruskah aku melepaskan harapan ini meskipun aku yakin itu akan membunuhku. Atau tetapkah aku berharap?
Hidup selalu dihadapkan atas 2 pilihan, namun ini adalah pilihan yang sangat berat.
Semua orang mengatakan bahwa cinta tulus itu tak melihat dari rupanya. Namun dizaman saat ini tak 1 pun cowok yang mau mencintai seseorang dengan rupa yang pas pasan.
Semua orang juga bilang cinta itu menerima pasangannya apa adanya. Namun saat ini yang aku rasakan sangat berbeda dengan pendapat semua orang.
Semuanya terasa sangat sulit. Hanya untuk mengharapkannya saja aku sudah tak sanggup. Namun disaat yang bersamaan pula aku mendapat dorongan keberanian untuk berharap dia menjadi milikku. Ini saat saat yang terberatku, antara berharap dan melepaskan harapan. Disaat aku siap untuk melepaskan harapan ini, namun tiba-tiba muncul dorongan harapan yang seperti menghempaskanku naik kelangit dengan beribu bunga yang mengelilingiku. Berhenti berharap disaat harapan itu datang. Harus apakah yang aku lakukan? Haruskah aku mengikuti putaran bumi yang seolah-olah enggap berputar dari posisinya dengan aku yang selalu dibawah?
Berikan aku 1 petunjuk, harus apakah aku? Harus berhenti kah meskipun ini sudah terlalu jauh. Harus tetap berharapkah? Dan menerima resikonya nanti. Berikan aku 1 tanda, Haruskah aku melepaskan harapan ini meskipun aku yakin itu akan membunuhku. Atau tetapkah aku berharap?
Hidup selalu dihadapkan atas 2 pilihan, namun ini adalah pilihan yang sangat berat.
Label:
cerita,
curhat,
percintaan
Lokasi:
Pematang Siantar, Indonesia
Senin, 13 Agustus 2012
Takkan Menyesali
Seperti biasanya, senang dan sedih itu silih berganti. Dan semua orang dapat merasakannya. Namun bagaiman jika disaat yang sama kita merasakan kedua hal tersebut? Senang dan sedih itu sama datang bagaikan tombak yang menembus uluh hati. Masih bisakah itu disebut bahagia? Atau bisakah itu dianggap kesedihan?
Dan seperti biasa pula, terharu dan tersinggung itu silih berganti. Namun bagaimana jika di detik yang sama pula keduanya datang? Seperti dihadapkan dengan harimau yang akan secepat kilat menerkam. Masih bisakah itu dianggap terharu? Atau kah itu malah disebut tersinggung?
Saat jatuh cinta dan patah hati itu silih berganti pula. Dan bahkan rumput pun mengetahuinya. Namun bagaimana jika disaat yang bersamaan kedua hal itu dihadapkah disatu sisi cinta namun disisi lain patah hati yang hanya diberi jarak setebal benang sutera. Yang semakin lama semakin dekat hingga akhirnya membentur 1 sama lain tanpa bisa dicegah. Sama seperti pedang yang menghujam jantung dan disiram oleh asam. Apakah itu masih bisa dianggap jatuh cinta? Atau itu dianggap sebagai sakit hati?
Sampai kapan pun aku takkan mengetahui artinya. Karena sampai kapanpun, mesikipun aku merasakan hal-hal itu, takkan pernah aku menyesali telah memberikan perasaan ini untukmu, meskipun saat ini aku harus merelakanmu demi dia. :)
Dan seperti biasa pula, terharu dan tersinggung itu silih berganti. Namun bagaimana jika di detik yang sama pula keduanya datang? Seperti dihadapkan dengan harimau yang akan secepat kilat menerkam. Masih bisakah itu dianggap terharu? Atau kah itu malah disebut tersinggung?
Saat jatuh cinta dan patah hati itu silih berganti pula. Dan bahkan rumput pun mengetahuinya. Namun bagaimana jika disaat yang bersamaan kedua hal itu dihadapkah disatu sisi cinta namun disisi lain patah hati yang hanya diberi jarak setebal benang sutera. Yang semakin lama semakin dekat hingga akhirnya membentur 1 sama lain tanpa bisa dicegah. Sama seperti pedang yang menghujam jantung dan disiram oleh asam. Apakah itu masih bisa dianggap jatuh cinta? Atau itu dianggap sebagai sakit hati?
Sampai kapan pun aku takkan mengetahui artinya. Karena sampai kapanpun, mesikipun aku merasakan hal-hal itu, takkan pernah aku menyesali telah memberikan perasaan ini untukmu, meskipun saat ini aku harus merelakanmu demi dia. :)
Label:
cerita,
percintaan
Lokasi:
Pematangsiantar, Indonesia
Sabtu, 11 Agustus 2012
Hingga Akhir Hayat
Engkaulah nafasku, yang menjaga didalam hidupku. Kau lah tujuanku. Kau lah harta ku. Kau lah akar tempat ku bertopang. Kau lah tanah untuk tempat ku tertancap. Kau lah segalanya bagiku.
Melepaskan mu sesuatu yang menikam ku. Melupakan mu sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan di keadaan sadar dan terlelap ku. Meninggalkan mu sesuatu yang dapat membunuhku hidup-hidup.
Engkau yang mengajarkanku menjadi yang terbaik. Kau yang menuntunku untuk selalu ingat kepada-Nya. Kau yang selalu memperingatkan ku jika aku salah arah. Kau yang selalu merangkul ku saat aku letih. Kau yang selalu menopangku saat aku goyah. Kau yang menangkapku saat aku terjatuh. Kau adalah pangeranku.
Kau adalah Raja bagiku. Yang selalu aku segani namun juga sangat aku cintai. Kau adalah bintang hidupku, yang selalu memperindah kelam hidupku. Kau adalah rembulan ku, yang selalu menerangi gelapnya hidupku. Kau adalah lentera hidupku yang selalu menyinari jalan hidupku. Kau adalah payungku yang selalu menaungiku. Kau adalah matahariku yang selalu memberikan ku kehangatan. Kau adalah berlian yang paling berharga di hatiku.
Hanya sedikit waktu yang kita miliki. Hanya sekejap Tuhan titipkan kau didalam hidupku. Hanya sebentar aku layak memiliki mu. Hanya segelintir kenangan yang kau torehkan dimemoriku namun sangat melekat hingga tak mungkin aku delete file itu.
Mengapa hanya ini saja? Mengapa hanya segini saja? Mengapa hanya sekejap Tuhan? Mengapa hanya sebentar kau titipkan dia dihidupku? Dia belum sepenuhnya melukis di kanvas hidupku. Dia belum selesai menorehkan tinta nya di kertas hatiku. Mengapa hanya sebentar?
Kau telah pergi. Pergi yang aku sendiri tak tau kemana? Apakah bisa aku melupakan seseorang yang sangat berati dalam hidupku? Apakah bisa aku melepaskan seseorang yang telah ku jadikan Raja dihatiku? Apakah sanggup aku merelakan kepergiaanmu? Aku belum bisa. Aku belum sanggup. Aku terlalu menyayangimu. Terlalu mencintaimu. Terlalu ingin memilikimu.
Tanggal 12-08-12 hari yang paling berarti bagiku. My sweet seventeen. Aku tak berharap lebih. Aku tak ingin kau kembali lagi di tengah kehidupanku karena itu mustahil.Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Aku hanya ingin menangis terseduh dalam dekapan mu yang sudah 8 tahun aku rindukan. Aku hanya ingin memelukmu. Aku hanya mau kau mengucapkan 'SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU, NEKE' walaupun hanya sekedar mimpi. Bapakku, aku akan selalu menyayangimu, hingga akhir hayatku :(
Melepaskan mu sesuatu yang menikam ku. Melupakan mu sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan di keadaan sadar dan terlelap ku. Meninggalkan mu sesuatu yang dapat membunuhku hidup-hidup.
Engkau yang mengajarkanku menjadi yang terbaik. Kau yang menuntunku untuk selalu ingat kepada-Nya. Kau yang selalu memperingatkan ku jika aku salah arah. Kau yang selalu merangkul ku saat aku letih. Kau yang selalu menopangku saat aku goyah. Kau yang menangkapku saat aku terjatuh. Kau adalah pangeranku.
Kau adalah Raja bagiku. Yang selalu aku segani namun juga sangat aku cintai. Kau adalah bintang hidupku, yang selalu memperindah kelam hidupku. Kau adalah rembulan ku, yang selalu menerangi gelapnya hidupku. Kau adalah lentera hidupku yang selalu menyinari jalan hidupku. Kau adalah payungku yang selalu menaungiku. Kau adalah matahariku yang selalu memberikan ku kehangatan. Kau adalah berlian yang paling berharga di hatiku.
Hanya sedikit waktu yang kita miliki. Hanya sekejap Tuhan titipkan kau didalam hidupku. Hanya sebentar aku layak memiliki mu. Hanya segelintir kenangan yang kau torehkan dimemoriku namun sangat melekat hingga tak mungkin aku delete file itu.
Mengapa hanya ini saja? Mengapa hanya segini saja? Mengapa hanya sekejap Tuhan? Mengapa hanya sebentar kau titipkan dia dihidupku? Dia belum sepenuhnya melukis di kanvas hidupku. Dia belum selesai menorehkan tinta nya di kertas hatiku. Mengapa hanya sebentar?
Kau telah pergi. Pergi yang aku sendiri tak tau kemana? Apakah bisa aku melupakan seseorang yang sangat berati dalam hidupku? Apakah bisa aku melepaskan seseorang yang telah ku jadikan Raja dihatiku? Apakah sanggup aku merelakan kepergiaanmu? Aku belum bisa. Aku belum sanggup. Aku terlalu menyayangimu. Terlalu mencintaimu. Terlalu ingin memilikimu.
Tanggal 12-08-12 hari yang paling berarti bagiku. My sweet seventeen. Aku tak berharap lebih. Aku tak ingin kau kembali lagi di tengah kehidupanku karena itu mustahil.Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Aku hanya ingin menangis terseduh dalam dekapan mu yang sudah 8 tahun aku rindukan. Aku hanya ingin memelukmu. Aku hanya mau kau mengucapkan 'SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU, NEKE' walaupun hanya sekedar mimpi. Bapakku, aku akan selalu menyayangimu, hingga akhir hayatku :(
Lokasi:
Pematangsiantar, Indonesia
Cita-cita
Tujuan? Tujuan itu bisa diibaratkan sebagai makanan. Disaat kita lapar kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih tak tentu arah. Tujuan adalah alat untuk kita menuju tempat yang seharusnya kita berada.
Visi? Visi bisa dibaratkan minuman. Disaat kita sangat haus dan dehidrasi kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih ragu dalam mengambil arah. Visi adalah jalan untuk kita agar tak ragu dan salah arah.
Cita-cita? Cita-cita, aku tak bisa menggambarkan seperti apa cita-cita itu. Karena sesungguhnya yang tau arti cita-cita itu adalah diri kita sendiri. Kita yang mampu mendeskripsikan seberapa dalamnya cita-cita itu. Seberapa berartinya cita-cita itu. Dan betapa berharganya cita-cita itu untuk kita.
Yang jelas hidup tanpa cita-cita itu sama artinya jalan diatas seutas tali. Yang tiba-tiba bisa saja terjatuh. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya tidur diatas papan dengan beribu paku. Yang rasanya pasti sakit. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya SAMPAH! Yang tak ada artinya sama sekali.
Visi? Visi bisa dibaratkan minuman. Disaat kita sangat haus dan dehidrasi kita pasti sangat membutuhkannya. Sama seperti saat kita masih ragu dalam mengambil arah. Visi adalah jalan untuk kita agar tak ragu dan salah arah.
Cita-cita? Cita-cita, aku tak bisa menggambarkan seperti apa cita-cita itu. Karena sesungguhnya yang tau arti cita-cita itu adalah diri kita sendiri. Kita yang mampu mendeskripsikan seberapa dalamnya cita-cita itu. Seberapa berartinya cita-cita itu. Dan betapa berharganya cita-cita itu untuk kita.
Yang jelas hidup tanpa cita-cita itu sama artinya jalan diatas seutas tali. Yang tiba-tiba bisa saja terjatuh. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya tidur diatas papan dengan beribu paku. Yang rasanya pasti sakit. Hidup tanpa cita-cita itu sama artinya SAMPAH! Yang tak ada artinya sama sekali.
Lokasi:
Pematangsiantar, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)